Skip to main content

Dampak Positif Belajar Calistung Sejak Usia Dini

   Sejak diberlakukannya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), pemerintah melalui dinas-dinas pendidikan daerah mulai mensosialisasikan larangan mengajarkan calistung pada usia pra-sekolah. Meski demikian, banyak lembaga pendidikan prasekolah mengajarkannya. Kalaupun sekolah tidak mengajarkan, banyak orang tua yang mengajarkannya sendiri atau dikursuskan.
    Larangan pemerintah tersebut didasari oleh beberapa asumsi. Pertama, masa anak-anak adalah masa bermain. Pembelajaran calistung dikuatirkan akan mendistorsi tugas perkembangan anak yang kodratnya adalah bermain. Kedua, Pembelajaran calistung dikuatirkan akan berdampak pada tumbuh kembang tumbuh kembang anak, seperti pertumbuhan fisik melambat (Jawa: kecenthet) dan pelambatan perkembangan otak. Hal ini diduga karena “penyalahgunaan” fungsi otak yang masih dalam taraf perkembangan. Ketiga, pembelajaran calistung dipandang berpotensi menimbulkan gangguan mental pada anak, karena masa-masa yang seharusnya diisi dengan bermain dipenuhi dengan beban belajar layaknya orang dewasa.
    Berdasarkan pengamatan terhadap siswa yang sudah menguasai calistung sejak dini dan ditemukan fakta bahwa siswa yang menguasai calistung sejak dini lebih siap dalam menempuh jenjang pendidikan berikutnya dibanding yang belum menguasai calistung. Kesiapan tersebut tampak pada beberapa sikap dan perilaku berikut, di mana anak yang menguasai calistung sejak dini:
1. Lebih mandiri dan Percaya Diri
    Anak-anak yang menguasai calistung sudah mampu melaksanakan tugas-tugas kesehariannya sendiri, seperti makan, mandi, tidur, hingga belajar. Mereka memahami tugas-tugasnya sebagai anak sekolah dan tugas-tugas kesehariannya. Bahkan sejak awal masuk sekolah, mereka dengan mudah lepas oleh orang tuanya tanpa harus ditunggui. Sebagian besar anak bahkan sudah mulai mampu mempersiapkan kebutuhan sekolahnya sendiri, yang berkaitan dengan perlengkapan sekolahnya.
2. Kepribadian Lebih Konstruktif
    Kemampuan calistung secara signifikan memperlihatkan perkembangan tingkat kedewasaan serta kemampuan anak menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Semakin tinggi kedewasaan anak, semakin mudah pula anak menguasai calistung, dan sebaliknya. Kedewasaan tersebut memungkinkan anak untuk bergaul dengan baik dengan sejawatnya, menghindari konflik, serta menghargai orang lain dan menyayangi yang lebih muda.
Anak-anak yang menguasai calistung pada umumnya lebih mudah diasuh oleh orang tuanya sendiri maupun di sekolah. Kondisi sebaliknya dialami oleh kebanyakan anak yang belum menguasai calistung, di mana anak-anak seperti ini umumnya masih lekat dengan sikap kekanak-kanakan yang terlalu ketergantungan pada orang tua dalam berbagai hal.
3. Mudah mengikuti pembelajaran
    Anak yang sudah menguasai calistung sejak dini memiliki fokus perhatian yang baik dan memiliki motiv berprestasi tinggi. Itu sebabnya mereka lebih mudah memahami instruksi baik melalui penjelasan maupun belajar secara mandiri. Kemampuan membaca dan menulis membuat mereka dapat belajar secara mandiri tanpa terlalu banyak instruksi dari orang lain.
Anak yang terlambat menguasai calistung pada umumnya sekaligus menjadi indikator hambatan belajar. Anak-anak seperti ini biasanya mengalami hambatan belajar seperti gangguan emosi, gangguan konsentrasi, hiperaktif, dan sebagainya. Selain hambatan memahami konsep, mereka umumnya kurang memiliki motif berprestasi.
4. Senang bersekolah
    Anak yang sudah menguasai calistung sejak dini merasa betah di sekolah dibanding anak-anak yang belum menguasai calistung. Kemampuan calistung membuat anak lebih siap menghadapi kegiatan sekolah. Mereka menyambut hari-hari di sekolah tanpa beban, bahkan memandang sebagai saat-saat yang menyenangkan. Kemampuan calistung membuat anak memandang sekolah dan belajar sebagai bagian penting dalam kehidupannya.
    Kondisi berbeda dialami oleh anak-anak yang belum menguasai calistung. Ketidakmampuan calistung membuat anak-anak yang berkarakter introvert, tertutup, penakut  atau pemalu kurang menyukai lingkungan sekolah. Mereka merasa lebih nyaman di rumah dan cenderung menarik diri dari lingkungan di sekolah. Sebaliknya, ketidakmampuan calistung pada anak-anak yang berkarakter kuat, dalam arti pemberani (Bahasa Jawa: Branjangkawat),  aktif dan mudah bergaul, pada umumnya diikutii dengan sikap dan perilaku yang kurang menunjang proses pembelajaran, seperti ngambek, mengganggu, merusak, hingga berkelahi.
5. Curiosity Terarah
    Anak yang menguasai calistung sejak dini memiliki keingintahuan tinggi. Mereka berusaha mempelajari berbagai hal yang mereka jumpai, seperti nama atau petunjuk jalan, merek kendaraan, papan iklan dan sebagainya. Mereka suka mempelajari berbagai petunjuk, seperti dosis obat, cara merangkai atau cara kerja suatu alat, dan cenderung banyak bertanya ketika mendapati hal baru.
Kecenderungan ini membuat anak belajar banyak hal secara konstruktif. Keingintahuan relatif tidak mengarah pada usaha mencoba-coba sesuatu yang membahayakan dirinya, orang lain atau yang dapat merusak obyek yang dihadapi.
    Perhatian anak yang terlambat menguasai calistung pada umumnya lebih terfokus pada dirinya sendiri. Itu sebabnya mereka lebih memilih fokus pada permainan yang ada di hadapannya.  Mereka lebih asyik dengan dirinya sendiri, permainan dengan tangan atau alat mainan yang ada di tangannya.
Anak yang terlambat menguasai calistung sebenarnya juga memiliki keingintahuan tinggi. Hanya saja, keingintahuan tersebut kurang terarah dan kurang konstruktif. Mereka membutuhkan pengawasan penuh sebab ketika tertarik pada sesuatu kurang memahami petunjuk dan berbagai larangan yang ada di depan matanya.  ,
6. Konsep Diri Kuat
    Kekayaan dan kepekaan terhadap informasi membuat anak yang menguasai balitung sejak dini memiliki konsep diri yang lebih kuat. Mereka memiliki kesadaran diri (self awareness) mengenai siapa dirinya dan lingkungannya, serta relatif lebih mampu membedakan baik-buruk, aman-berbahaya, pantas-tidak pantas, serta boleh-dilarang.
Kepribadian anak yang terlambat menguasai calistung cenderung kurang konstruktif. Mereka relatif sulit membedakan yang baik-tidak baik, bahkan bahaya dan tidak bahaya. Mereka umumnya cenderung egois seperti umumnya anak-anak dan sulit menerima penjelasan orang dewasa. Ketika mereka merengek meminta sesuatu sulit untuk diredam sehingga sering merepotkan orang tua.
7. Minat pada Multi Kegiatan
    Penguasaan calistung tidak mengurangi minat anak untuk mengikuti berbagai kegiatan. Anak yang menguasai calistung memiliki minat pada bidang yang lebih luas, baik yang akademik maupun non akademik. Tingginya motif berprestasi membuat mereka menyukai kegiatan-kegiatan yang berorientasi prestasi.
Anak yang terlambat menguasai baca-tulis juga memiliki minat yang sama, tetapi minat mereka lebih banyak pada kegiatan yang berorientasi permainan. Minat berprestasi mereka tertuju pada permainan kompetitif dan mudah bosan bila mengikuti kegiatan yang berorientasi seni atau membutuhkan latihan rutin.
8. Kemampuan Bertransaksi
    Kemampuan calistung membuat anak lebih matang dalam berinteraksi dengan lingkungan. Mereka mengetahui nilai uang, kembalian, harga barang, sehingga mampu bertransaksi sendiri dengan tingkat kesalahan yang relatif kecil. Pemahaman atas nilai uang dan barang membuat mereka relatif mudah memahami keberatan orang tua ketika menginginkan barang-barang yang berharga terlalu mahal bagi orang tuanya.
    Sebagaimana masyarakat buta aksaara, anak yang belum menguasai calistung sebenarnya juga mengetahui nilai uang, tetapi relatif kurang memahami nilai barang dan uang kembalian. Mereka hanya dapat melakukan transaksi sederhana, misalnya membeli jajanan dengan harga pas dengan uang pecahan kecil.
    Dampak-dampak yang dikhawatirkan terjadi pada anak yang menguasai calistung sejak dini sejauh ini tidak terjadi. Tumbuh kembang yang menguasai calistung anak secara fisik tidak berbeda dari anak yang belum menguasai calistung. Calistung justeru berdampak positif bagi perkembangan mental anak sehingga memudahkan mereka untuk belajar maupun untuk diasuh oleh orang tuanya.
Source : https://www.kompasiana.com/nasionalis/54f5dcc5a33311191f8b47d6/dampak-positif-belajar-calistung-sejak-dini

Comments

Popular posts from this blog

Alat dan Bahan Menggambar Bentuk Obyek Tiga Dimensi

KOMPAS.com - Menggambar merupakan sebuah kegiatan ekspresif yang didalamnya membutuhkan beberapa alat untuk menunjang terciptanya sebuah karya. Karya gambar yang sudah jadi pun disesuaikan dengan tingkatan sesuai umur atau juga kategori. Namun, dari semua itu menggambar membutuhkan peralatan yang mumpuni sehingga hasilnya bisa dilihat. Peran alat dan bahan sangat menentukan untuk menghasilkan gambar bentuk yang baik. Dalam buku Panduan Menggambar Manusia Menggunakan Media Pensil (2010) karya Irfan Abdul Rohman, peralatan gambar yang dipakai memiliki spesifikasi berbeda sesuai jenisnya. Berikut peralatan menggambar bentuk:   1. Kertas Gambar  Kegiatan menggambar membutuhkan kertas yang baik agar proses pembuatan gambar lebih nyaman dan maksimal. Bahan kertas yang baik salah satu syaratnya adalah tidak mudah sobek, mengingat menggambar merupakan proses menggores dan menghapus. Kertas adalah bahan yang paling ideal digunakan untuk menggambar. Dalam menggambar menggunakan pensil agar menda

Kursus Menggambar untuk Usia Dewasa

    Ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat sekaligus menyenangkan? Kakak-kakak bisa belajar menggambar, melukis, design grafis, dan fashion design di La Alfabeta lho! Pengajar La Alfabeta sabar dan kreatif kok untuk mengajar dengan metode yang fun, La Alfabeta menggunakan konsep bermain sambil belajar, jadi siswa tidak merasa terbebani dan tidak cepat bosan. ⁣⁣ Ayo, tunggu apa lagi? Jangan ragu-ragu untuk daftar les Art and Craft bersama La Alfabeta. ⁣⁣⁣⁣Ada pilihan online class maupun offline class lho! Cek kelebihan kami: Online & Offline Class available. Kakak pengajar bisa datang ke rumah dan melakukan pembelajaran secara offline (tatap muka langsung) dan juga bisa melakukan pembelajaran online menggunakan aplikasi Zoom, Skype dan aplikasi sejenis Disc 50% biaya pendaftaran  Harga yang terjangkau  Waktu lebih fleksibel, dapat mengatur jadwal langsung dengan kakak pengajar. Jadwal les tersedia weekdays maupun weekends, dengan rentang waktu panjang mulai pukul

Cara Membedakan Karya Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan

  Cara membedakan karya seni rupa murni dan seni rupa terapan dilihat dari fungsinya, sebagai berikut: Seni rupa murni Seni rupa murni adalah karya seni yang tercipta bebas dengan fungsi yang lebih mengutamakan keindahan dari pada fungsi.  Sebagai kepuasan pandangan mata saja dan biasanya sering digunakan hanya sebagai pajangan. Dilansir dari buku The Perceptual Structure of Three-Dimensional Art (2016) karya Paul MW, fungsi dari seni rupa murni untuk memuaskan batin di dalam ciptaanya. Mengutamakan unsur keindahan.  Contoh karya seni rupa murni adalah lukisan, patung, grafiti, relief, seni koreografi, dan masih banyak lainnya.  Seni rupa terapan Seni rupa terapan adalah merupakan karya seni yang tidak hanya sebagai pajangan rumah saja, melainkan juga berfungsi untuk membantu kehidupan manusia.  Seni rupa terapan lebih mengutamakan kegunaan dibandingkan keindahan. Fungsi dari karya seni rupa terapan justru menonjolkan kegunaan atau kebutuhannya, seperti kebutuhan pokok atau kebuituhan